Konsultasi dalam ”soal” Pengambilan Keputusan


 

Konsultasi dalam ”soal” Pengambilan Keputusan

 

 

Sore hari, ketika gerimis seolah tidak mau berhenti, terus mengguyur dan menyejukkan bumi di Lippo Cikarang, Bekasi, datang seorang karyawan outsourcing se-level operator (lulusan SMK; STM) dengan perawakan yang tinggi-besar. Dengan yakin-nya karyawan tersebut menyampaikan bahwa dia akan segera mengundurkan diri (resign) karena ada masalah keluarga, sehingga yang bersangkutan ”merasa” tidak memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaan. Hmmm, masalah keluarga…! Batin saya sedikit bergumam.

 

Pada usia di penghujung belasan tahun (kira-kira 20 tahunan), tentu yang dimaksud keluarga bukanlan anak dan/atau isterinya. Tentu, keluarga besar yang dimaksud, yaitu kedua orang tua dan kakak serta adiknya. Dan, yang demikian yang sebenarnya. Ketika saya bertanya tentang apa ”masalah keluarga”, yang bersangkutan merasa keberatan untuk megutarakannya.

 

Karena berdasarkan pengamatan selama ini karyawan tersebut reputasi dan performa-nya cukup baik, sayang kalau potensinya serta merta lenyap begitu saja. Niat untuk mempertahankan tidak ada. Namun, ada konsekuensi moral agar –misalnya—jadi resign, yang berangkutan memperoleh tempat yang lebih baik.

 

Apakah sudah ada pekerjaan baru? Apakah sudah ada usaha sendiri? Semua pertanyaan tersebut dijawab “tidak”. Lantas apa yang diharapkan setelah resign? Dengan enteng dia menjawab, tidak tau. Duh…. Orang mengambil keputusan, tetapi belum tau apa risiko yang akan terjadi. Yah, tugas saya untuk memberikan pencerahan (enlightenment) karena saya merasa, karyawan ini sedang dirundung kegelapan yang pekat.

 

“Orang tua tinggal dimana?” Saya bertanya untuk melanjutkan pembicaraan (konseling).

“Ibu di Borobudur (Magelang, Jawa Tengah), bapak di Cikampek, Jawa Barat” jawabnya. “Bapak bekerja di Cikampek” Katanya, melengkapi jawaban sebelumnya.

 

“Bapak berapa bulan sekali pulang kampung?” saya bertanya lebih lanjut.

Terlihat kuat menarik nafas dalam-dalam, dan selanjutnya mengatakan dengan berat, ”itu-lah masalahnya pak…..” Kemudian dia menjelaskan lebih lanjut ”Bapak tidak pernah pulang, dan (sepertinya) sudah tidak memikirkan ibu dan adik-adik saya. Sebagai anak pertama, saya yang selama ini membantu membiayai kehidupan ibu dan kedua adik saya yang masih sekolah”.

 

Alhamdulillah….. (batin saya), saya insyaallah telah menemukan akar masalahnya. Ada ketidakharmonisan, atau setidaknya ada yang ”hilang” dalam keluarganya. Masalah ini-lah yang selama ini mengganggu yang bersangkutan sehingga tidak bisa bekerja maksimal.

 

“Apabila jadi resign, apakah masalah keluarga ini akan selesai? Atau malah sebaliknya, masalah keluarga tidak selesai, malah tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan?“ Tanya saya selanjutnya.

“Sebagai anak pertama, sudah semestinya bertanggung jawab atas masalah keluarga”. Jika ada masalah, harus membantu menyelesaikannya. Jika tidak mungkin membantu, minimal jangan sampai membuat masalah baru lagi.” Lebih lanjut saya menjelaskan.

 

Pertanyaan dan pernyataan (simple) ini rupanya cukup efektif, “menggugah” hati dan pikirannya, sehingga mampu berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatu lebih jernih.

Sepintas karyawan tersebut diam (dengan mata berkaca-kaca), seperti merenungkan kembali keputusan resign-nya. Dengan mantap, yang bersangkutan melontarkan kesimpulan akhirnya.

 

“Baik pak, saya niat untuk tetap bekerja” Karena saya tidak ingin membuat masalah semakin parah” Saya-pun tidak menduga yang bersangkutan berubah maksud secepat itu.

 

Beberapa bulan kemudian, perusahaan dimana karyawan tersebut ditempatkan menginformasikan bahwa karyawan tersebut akan diberi kesempatan pelatihan kerja di Jepang untuk beberapa bulan. Tak lama setelah pemberitahuan ini, yang bersangkutan juga menyampaikan dengan penuh kebanggaan bahwa “wong ndeso” yang cuma lulusan STM bisa ke Jepang. Serta mengucapkan beribu terimakasih, karena telah “diselamatkan”, masih tetap dapat bekerja, dan alhamdulillah bisa ke negeri sakura dalam beberapa bulan.

 

Dari petikan cerita tersebut, ada beberapa nilai yang layak untuk diperhatikan;

1.       Untuk menyelesaikan masalah, harus diketahui, apa masalah yang sebenarnya. Ibarat dokter, untuk mengobati sesuatu, harus diketahui apa penyakitnya.

2.       Dalam pengambilan keputusan, hendaknya didasarkan pada dasar / informasi yang kuat dan dipertanggungjawabkan. Jika tidak ada dasar ini, keputusan bisa salah, atau setidaknya tidak tepat sasaran.

3.       Di tempat kerja, jangan pernah merasa bekerja sendiri. Ada rekan kerja, ada atasan, bahkan atasan-pun masih punya atasan lagi, dan seterusnya. Mereka-lah yang bisa kita ajak berbagi untuk membantu menyelesaikan masalah. Setidaknya, bisa menjadi tempat berbagi.

4.       Dalam memutuskan sesuatu, silakan konsultasi dengan pihak yang terkait/berwenang, agar setiap keputusan selalu lebih tepat, akurat, dan yang pasti lebih mantap.

 

Semoga bermanfaat.

 

Wassalam,

 

 

Imron Munfaat

Explore posts in the same categories: Manajemen, Uncategorized

One Comment on “Konsultasi dalam ”soal” Pengambilan Keputusan”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: