Melihat dari Semua Sisi


Melihat dari Semua Sisi

Dari jauh, tampak padi itu rata menguning (siap panen).

Setelah mulai mendekat, baru lah terlihat memang menguning, tapi tidak merata.

Setelah kian dekat, selain tidak merata ternyata ada juga yang masih berwarna hijau (muda).

Semakin dekat, ternyata padi itu bercampur dengan rumput.

Setelah mendalami (panen), ternyata tidak sedikit padi yang rusak.

Perumpamaan tersebut, disadari atau tidak sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh karyawan yang “merasa” mampu bekerja dengan baik sementara “merasa” tidak dihargai (reward) dengan selayaknya oleh perusahaan, sehingga memutuskan pindah kerja atau bahkan membuka usaha sendiri.

Sikap “merasa” dan “merasa” tersebutlah yang tercermin betapa bentuk warna padi yang merata-kuning, kuning-tidak merata, merata-hijau, dan padi yang rusak. Padi yang kuning dan merata menganalogikan kematangan dan kemampuan yang memadai. Sementara yang hijau atau rusak atau keberadaan rumput, menunjukkan adanya kelemahan atau kekuarangan, bahkan penghambat untuk kemajuan kita.

Tidak jarang kita merasa bisa, merasa mumpuni, merasa ahli, merasa layak dihargai, merasa mampu pindah / memlih kerja, bahkan merasa mampu berdiri sendiri (usaha sendiri). Apakah perasaan ini benar? Syukur jika memang perasaan tersebut bukan sekedar perasaan, tetapi kenyataan (benar). Tetapi bagaimana jika ternyata hal tersebut sekedar perasaan (bukan kenyataan yang sebenarnya)?

Ketika muncul “perasaan” tersebut itulah kita perlu mengingat satu pertanyaan simpel, apakah kita telah melihat dengan merata (dari semua sisi) atas kenyataan pada diri kita? Pertanyaan ini bisa menghindarkan diri dari berbagai perasaan-perasaan “salah” tersebut.

Lantas sisi apa saja mana yang harus kita lihat? Berikut beberapa hal yang terkait erat dan layak diperhatikan.

  1. Tidak berpuas diri 
  2. Tidak cukup hanya penilaian internal 
  3. Jangan berpikir dunia sempit 
  4. Tidak ada kamus fleksibel vs rigid 
  5. Tidak berpikir dan bersikap “kaca mata kuda”
  6. Masih sering menyalahkan? 
  7. Masih mengharap pernghargaan? 
  8. Adakah dasar obyektif untuk menjadi pioneer (role model) 
  9. Adakah dasar obyektif untuk meletakkan dasar budaya (positif)
  10. Sejauh mana cara dan jarak pandang ke depan (visioner)

Mari, sama-sama kita renungkan.

Semoga bermanfaat.

Wassalam,

Ttd,

Imron Munfaat

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: