Ayo… PHK di Tengah Krisis Global


image-pg2Hubungan Industrial di Tengah Krisis Global

 

Pada beberapa situs, menampilkan beberapa headline misalnya Yahoo PHK 10 Persen Karyawan, atau 70.000 Karyawan Tekstil Terancam PHK. Ada juga yang bertajuk 10% Pekerja Terancam PHK pada 2009. Bahkan pula ada yang menyebut spesifik daerah tertentu,  3.000 Pekerja Bekasi Diberhentikan Akhir Tahun.

Dari beberapa judul atau tajuk tersebut (silakan tekan ctrl & link tersebut) kita bisa memahami isi, maksud dan tujuan tulisan dibalik judul tulisan yang membuat urat menegang, pusing terasa kian membanting. Yah, semua karena crisis finansial yang mengglobal. Karena konsekuensi globalisasi, kondisi ekonomi siapapun (negara manapun) “ketularan” virus crisis tersebut.

Siapapun, perlu prihatin atas kondisi tersebut. Atau bahkan ada yang berpikir, jangan-jangan “saya” termasuk yang dimaksud dalam pembahasan tersebut. Atau dengan kata lain, “saya” salah satu yang menjadi tema yang dibaca dan diakses sekian juta orang di dunia maya.

Bagaimana sebenarnya sikap kita? Larut dalam ketakutan? Larut dalam was-was yang tidak pernah berujung? Harap-harap cemas dalam kekhawatiran? Ah, tentu tidak. Toh, (meskipun hanya judul) masih ada harapan seperti 60 PERUSAHAAN SEDIAKAN 1200 LOWONGAN TENAGA KERJA, atau ADA 9.398 LOWONGAN KERJA DI KALBAR. Dan tentu masih banyak kondisi yang menghadirkan harapan dan optimisme. Kalaupun “rasa itu ada” (takut, khawatir, was-was, dll) mari berusaha semaksimal mungkin untuk melewatkan begitu saja. Jangan sampai mampir / singgah terlalu lama. Stress, pasti! Toh setiap hari sudah terbiasa stress karena tugas yang menumpuk, apalagi kondisi kerja kadang kurang bersahabat (asal jangan depresi ya…..?)

Rasa optimis perlu. Menaker (hari ini, 10/11) menyampaikan, PHK boleh-boleh aja, tetapi bukan berarti pemutusan hubungan kerja, tetapi Pokoknya Harus Kerja. Sesama warga negara, boleh dong saya usulkan PHK menjadi “Penuhi Hak Kami”, atau Peduli Hukum Kebersamaan. Logiskah? Semoga teruji kebenarannya.

Bicara PHK identik atau erat kaitannya dengan beres-tidaknya pola hubungan industrial (HI) yang dibangun. HI adalah nafas dan jantung sebuah proses industri. HI yang tertata, tidak saja mamapu mengoptimalkan kinerja perusahaan, namun terbukti meningkatkan daya tahan dan mematangkan perusahaan dalam menghadapidan menyelesaikan masalah internal dan eksternal perusahaan. Lebih dari itu, HI menjamin berkelanjutan-tidaknya sebuah proses bisnis. Contohnya, perusahaan yang profitabilitasnya baikm tetapi hanya sekejap, tidak ada kesinambungannya, untuk apa? Jadi HI diharapkan dapat menjamin sustainable performance.

 

Apa kaitannya dengan Penuhi Hak Kami dan Peduli Hukum Kebersamaan? Penuhi hak kami. Sepintas, kata-kata ini terlontarkan pada saat karyawan ”strike”, sehingga muncul tuntutan tersebut. Pengertian ”kami” didasari pada adanya persamaan kedudukan antara pengusaha dan karyawan yang bersama-sama membahasakan hak kami (bersamanya). Ingat, didalam HI masing-masing pihak punya hak, yang harus saling dipenuhi oleh pihak lainnya. Jadi tidak pada tempatnya jika hanya salah satu pihak (atau pihak itu melulu) yang menuntut pihak lainnya. Jadi PHK (Penuhi Hak Kami; pengusaha dan karyawan), tetap harus sama-sama dikedepankan, dalam kondisi sesulit apapun (Krisis).

Mengenai Peduli Hukum Kebersamaan, yang dimaksud adalah adanya satu ikatan yang kuat — yang sulit dipisahkan –, karena pihak didalamnya (pelaku HI) peduli, mengutamakan dan menomorsatukan kebersamaan. Demikian halnya ketika masa sulit. Menurut pengalaman sejarah, ketika satu bangsa dihadapkan dalam kesulitan (misalnya menghadapi penjajah) solidaritas dan persatuan lebih mudah terbentuk. Meskipun setelah merdeka kondisinya seperti sekarang (persatuan selalu dalam ancaman/permasalahan), namun setidaknya cukup memberikan gambaran bahwa krisis sekarang perlu menjadi momentum kebersamaan antara pengusaha dan karyawan. Bukan sebaliknya, saling tuding, saling menyudutkan dan seterusnya. Disinilah berlaku hukum kebersamaan;

1.        Saling menanamkan empati. Kurang lebihnya “Bila Rasaku ini Rasamu”. Jadi yang ada  rasa kita, bukan rasa masing-masing. Mengapa? Karena rasa masing-masing berawal dan berujung pada egosentris yang terlalu kuat sehingga mengancam eksistensi pihak / mitra yang lain.

2.        Jangan ada dusta diantara kita. Dusta adalah akar / awal sebuah permasalahan yang besar. Disinilah terjadi ujian kepercayaan. Jika dibiarkan, maka prasangka, bullying, provokasi, dan saudara kembarnya yang lain, akan mengancam kesinambungan perusahaan. Yang diperlukan adalah sikap saling percaya (trust; amanah), sehingga ikatan HI semakin kuat.

3.        Apapun, harus dilakukan bersama-sama. Ingat, ada manajemen partisipatif, ketika seluruh komponen perusahaan terlibat aktif dan mempunyai kesempatan yang sama dalam menentukan sasaran (management by objective; MBO), mengatur perencanaan, mempersiapkan pelaksanaan, serta mengevaluasi dan memperbaiki setiap kelemahan dan kekurangan secara bersama-sama.

4.        Saling peduli dan mengingatkan, termasuk didalamnya mensyukuri nikmatNya. Perusahaan harus bersyukur mempunyai aset (karyawan) yang kontribusi dan partisipasinya cukup besar dalam memajukan perusahaan. Sebaliknya karyawan bersyukur dan harus meyakini bahwa inilah (perusahaan) tempat terbaik untuk aktualisasi diri atas kompetensi yang dimilikinya. Termasuk menjadi salah satu sumber penghidupannya. Atau, jika berlebihan, setidaknya menyadari bahwa tidak sedikit yang belum memperoleh kesempatan bekerja. Sehingga masing-masing pribadi lebih mudah dalam pengendalian dirinya.

Jadi, tak selamanya PHK itu jelek. Ternyata PHK (Peduli Hukum Kebersamaan) adalah sesuatu kondisi harmonis yang sangat indah nan penuh kedamaian yang senantiasa kita cari dan upayakan, BERSAMA!

Dibalik itu semua, bisa jadi kondisi seseorang (baca : karyawan) masih belum merasa nyaman. Apa yang harus dilakukan / dipersiapkan? Beberapa hal yang layak dipertimbangkan untuk direnungkan (selanjutnya dilaksanakan, tentunya) adalah;

1.        Jika anda semula berkeinginan untuk berusaha sendiri (entrepreneur), saat-saat seperti ini-lah masanya. Bagi yang mempunyai keinginan tetapi sempat menunda, sekarang-lah waktunya membatalkan penundaan alias jadi “on time”. Singkatnya, entrepreneur menjadi salah satu alternatif atas kesulitan yang terjadi seperti sekarang.

2.        Apabila kita yang masih betah dan menikmati status karyawan, yakin-lah  bahwa keberhasilan tidak hanya milik entrepreneur. Karyawan juga bisa memperoleh karier yang gemilang. Bagaimana menghadapi krisis ini;

a.       Jika perusahaan sekiranya masih survive, atau mempunyai daya tahan (durability) yang baik, tetap setia-lah pada perusahaan karena dikatagorikan sehat.

b.      Jika kondisi perusahaan kurang sehat (meskipun tidak kita harapkan tetapi bisa saja terjadi), silakan gunakan networking  (jaringan, kenalan) anda. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang peluang kerja / usaha. Cara yang cukup efektif adalah, cari dan dekati head hunter. Titipkan cv anda agar dijaga baik-baik, dan jika memungkinkan diprioritaskan.

3.        Ikuti setiap perkembangan dengan seksama. Untuk apa? Ingat, peluang bisa muncul dari hal-hal yang tidak kita duga. Dengan kita aktif berkelana di dunia maya, memperoleh akses informasi sebanyak-banyaknya bisa jadi akan mendekatkan kita pada kesuksesan.

4.        Satu sikap yang dominan menentukan keberhasilan kita adalah tetap optimis menatap masa depan, tetap positif berpikir dan bersikap, bahwa tidak ada kegagalan yang disebabkan karena kesulitan. Kegagalan timbul karena kondisi sulit yang diciptakan sendiri.

 

Wassalam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: